Saturday, October 22, 2016

Vinales Bertekad Geser Posisi Rossi pada Klasemen MotoGP



Pebalap Suzuki Ecstar, Maverick Vinales, memiliki tekad untuk menggangu duel Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo dalam perebutan posisi runner-up MotoGP musim ini. Secara hitung-hitungan, rider asal Spanyol tersebut memang memiliki kans besar untuk menggeser posisi dua seniornya itu.

Usai Marc Marquez menyegel gelar juara dunia MotoGP musim 2016, praktis duel panas hanya terjadi dalam perebutan tempat kedua. Publik menyakini pertarungan untuk posisi itu hanya melibatkan Rossi dengan Lorenzo. Namun, Vinales masih memiliki kans yang sama dengan dua pebalap Yamaha tersebut.

Saat ini The Doctor masih menghuni peringkat dua papan klasemen dengan raihan 196 poin dibuntuti Lorenzo yang sudah mengoleksi 182 poin. Sementara Vinales menduduki posisi keempat dengan 165 poin. Dengan tiga balapan sisa, memang tak mustahil buat pebalap berusia 21 tahun itu menyalip keduanya.

"Menurut saya jaraknya sangat, sangat jauh, tapi tidak ada yang tidak mungkin jika Anda menyimpan harapan. Saya akan bertarung untuk menjadi yang terbaik," ujar Vinales dikutip dari AS, Jumat (21/10/2016).

Untuk itu, Vinales menatap balapan MotoGP Australia dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Dia yakin bisa menaklukkan Sirkuit Phillip Island yang terkenal memiliki kontur trek yang berbeda dengan sirkuit lain.

"Itu sirkuit yang secara umum saya nikmati saat membalap di sana, saya menikmati melaju dengan cepat. Saat Anda merasa senang, Anda akan melaju lebih cepat karena memberikan segala yang Anda punya. Saya tidak khawatir dengan cuaca buruk, terutama pada pagi hari," tuturnya.

Duel Rossi-Lorenzo Jadi Andalan MotoGP di Akhir Musim



Keberhasilan Marc Marquez menjadi juara dunia 2016 di Jepang menyisakan sisi negatif bagi dunia MotoGP. Kini, MotoGP tentunya berharap Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo bakal berduel mati-matian untuk memperebutkan posisi kedua meskipun tak lagi bisa jadi juara dunia.

Sukses Marquez menjadi juara dunia di Sirkuit Motegi tentunya berarti MotoGP musim ini sudah mencapai klimaks. Padahal masih ada tiga seri tersisa, yaitu GP Austrlia dan GP Malaysia dalam dua pekan beruntun dan GP Valencia di bulan November mendatang.

Tak adanya lagi perburuan gelar juara bisa menurunkan tensi dan atmosfer kompetisi di tiga seri tersisa. Namun setidaknya MotoGP tak sepenuhnya khawatir karena mereka masih memiliki harapan akhir musim 2016 tetap diminati banyak orang.

Salah satu hal yang bisa tetap mendongkrak perhatian publik adalah duel Rossi-Lorenzo untuk perebutan posisi kedua. Meskipun sama-sama dari Yamaha, keduanya sudah dikenal sebagai rival sejati dan tak akan mengalah begitu saja pada sang lawan.

Rossi sendiri telah menegaskan dirinya akan tetap serius menatap akhir musim meskipun tak mungkin lagi mendapat gelar juara dunia.

"Saya akan selalu mencoba untuk meraih hasil bagus. Motivasi besar bagi saya adalah mencoba untuk mendapatkan poin."

"Target saya adalah berdiri di podium di Australia, Sepang, dan Valencia," kata Rossi seperti dikutip dari Motorsport.

Selain duel Rossi-Lorenzo, hal lain yang bisa menarik tensi akhir musim adalah bila Marquez benar-benar memegang janjinya untuk tetap serius di sisa musim.

"Saya akan berusaha menikmati seri yang tersisa. Phillip Island adalah salah satu sirkuit favorit saya."

"Berdiri di puncak podium adalah cara yang spesial untuk merayakan gelar juara dunia," ujar Marquez.

MotoGP juga masih bisa berharap persaingan Maverick Vinales-Andrea Dovizioso-Pol Espargaro untuk memperebutkan posisi lima besar sebagai tambahan magnet agar sisa musim MotoGP tak sekadar pelengkap saja.

Marquez Pole Position MotoGP Australia



Pebalap Repsol Honda Marc Marquez seolah tak ingin mengendurkan perjuangannya di sisa seri musim kompetisi 2016 meski telah mengunci gelar juara dunia pekan lalu.

Pada seri selanjutnya yang berlangsung di Philip Island, Australia, pria asal Spanyol itu berhasil merebut pole position atau start terdepan.

Hal itu didapatkan Marquez karena memiliki catatan waktu terbaik satu putaran pada sesi kualifikasi GP Australia, Sabtu (22/10).

Marquez menjadi yang terbaik denan catatan waktu satu menit dan 30,189 detik. Dia pun memiliki catatan top speed 325 km per jam.

Di belakang Marquez menyusul pebalap veteran Inggris yang membela tim LCR Honda, Cal Crutchlow. Pebalap yang dijuluki ‘Badut’ tersebut memiliki catatan waktu terbaik satu menit dan 30,0981 detik atau lebih lambat 0,792 detik dari Marquez.

Selanjutnya, di posisi ketiga dan keempat adalah Espargaro bersaudara. Pol Espargaro yang membela Yamaha Tech 3 menjadi tercepat ketiga dengan catatan waktu satu menit dan 31,107 detik. Ia disusu saudaranya Aleix yang membela tim Suzuki Ecstar. Aleix yang menggunakan sasis GSX-RR itu memiliki catatan waktu satu menit dan 31,673 detik.

Menariknya, selain Marquez, tak ada duo Yamaha—Valentino Rossi dan Jore Lorenzo—yang masuk 10 besar. Di tempat ke lima hingga ke-10 dihuni Jack Miller (Marc VDS), Danilo Petrucci (Octo Pramac), Nicky Hayden (yang mengganti Dani Pedrosa di tim Repsol Honda), Stefan Bradl (Aprilia Gresini), Andrea Dovizioso (Ducati), dan Hector Barbera (Ducati).

Lorenzo ada di posisi ke-12 dengan catatan waktu satu menit dan 36,840 detik atau lebih lambat lebih dari 6,6 detik dari Marquez.

Dan, berikut catatan waktu 10 besar dalam sesi kualifikasi MotoGP Australia 2016:

1. M. MARQUEZ 1:30.189
2. C. CRUTCHLOW 1:30.981
3. P. ESPARGARO 1:31.107
4. A. ESPARGARO 1:31.673
5. J. MILLER 1:31.754
6. D. PETRUCCI 1:32.420
7. N. HAYDEN 1:32.944
8. S. BRADL 1:33.015
9. A. DOVIZIOSO 1:33.090
10. H. BARBERA 1:33.914

Jari Valentino Rossi Patah di Motegi



Jelang seri MotoGP Australia di Phillip Island, Valentino Rossi mengungkapkan fakta bahwa jarinya patah saat terjatuh di Motegi.

Rossi terjatuh di GP Jepang saat berusaha keras menaklukkan Marc Marquez di sirkuit Motegi demi menjaga peluang untuk jadi juara dunia tetap terbuka. Insiden tersebut, ditambah terjatuhnya Jorge Lorenzo, membuat Marquez sudah mengunci gelar juara dunia musim ini pada akhir pekan lalu.

Rossi sendiri mengakui bahwa kecelakaan yang menimpanya di Jepang membuat jari kelingkingnya patah.

"Saya merasa tak nyaman dengan kondisi kelingking saya dan ternyata patah. Saat ini kondisinya sudah lebih baik meskipun saya masih merasakan rasa sakit," kata Rossi seperti dikutip dari Motorsport.

Meskipun mengalami patah jari, Rossi sama sekali tak berniat untuk absen di Phillip Island. Bagi Rossi, cedera tersebut tidak menghalangi performanya di atas motor.

"Kondisi yang saya alami saat ini tidak terlalu masalah untuk mengendarai sepeda motor. Masalah yang saya hadapi akibat cedera ini hanyalah sedikit," ujar Rossi menegaskan.

Rossi sendiri saat ini duduk di posisi kedua klasemen MotoGP dengan koleksi 196 poin. 'The Doctor' unggul 14 angka dari Jorge Lorenzo yang ada di posisi ketiga.

Thursday, October 20, 2016

Rossi Anggap MotoGP 2016 Musim Terburuknya



Pebalap Movistar Yamaha, Valentino Rossi, menganggap MotoGP 2016 merupakan musim terburuk sepanjang kariernya tampil di ajang kelas primer Grand Prix jelang tampil di Sirkuit Phillip Island, Australia, Minggu (23/10).

Perjuangan Rossi dalam perebutan gelar juara dunia MotoGP 2016 berakhir setelah pebalap asal Italia itu gagal finis di GP Jepang, Minggu (16/10). Dengan tiga seri tersisa, Rossi tertinggal hingga 77 poin dari Marc Marquez yang merebut gelar juara dunia.

Berbicara jelang GP Australia, 21-23 Oktober, Rossi mengaku kecewa dengan hasil yang diraihnya di ajang MotoGP musim ini.

"Kami sudah menjajal ban Michelin di Phillip Island, tapi sayangnya kami tiba di sini setelah musim yang sangat buruk, musim terburuk kami di atas kertas," ujar Rossi seperti dikutip dari GP Xtra.

"Kami berharap kondisi cuacanya tidak terlalu buruk, karena jika terlalu dingin akan sangat berbahaya. Kami mengharapkan kondisi cuaca yang bagus," sambungnya.

Kegagalan finis di GP Jepang tidak sepenuhnya memberikan hal negatif buat Rossi. The Doctor mengatakan penampilan di Sirkuit Motegi tetap menyimpan sisi positif.

"Hal terburuknya adalah kami tidak meraih poin di Motegi, tapi hal positifnya kami menunjukkan sepeda motor kami kuat dan cepat,"

"Phillip Island adalah trek yang fantastis dan ini sirkuit yang sangat saya sukai. Kami harus berusaha tampil cepat dan kuat di Australia juga."

Rossi kali terakhir meraih kemenangan di GP Australia pada musim 2014. Sementara musim lalu Rossi hanya mampu finis di posisi keempat, setelah kalah dari Marquez, Jorge Lorenzo, dan Andrea Iannone.

Wednesday, October 19, 2016

Karier Pedrosa Musim Ini Masih Teka-teki



Dani Pedrosa baru saja melewati operasi pemulihan cedera tulang selangka. Pembalap kebangsaan Spanyol itu kini diharuskan istirahat total agar bisa tampil dalam tiga seri tersisa di musim balap 2016.

Namun menurut prediksi tim dokter, Pedrosa sepertinya tidak bisa unjuk kemampuan saat lomba digelar di Sirkuit Phillip Island, Australia, 21-23 Oktober 2016. Sejauh ini Pedrosa sendiri belum mengetahui pasti kapan dirinya bakal kembali ke lintasan balap.

"Saya merasakan sakit yang dahsyat selema beberapa hari setelah operasi. Tapi secara perlahan, kondisi saya mulai berangsur membaik. Saya harus rutin memeriksakan diri," kata Pedrosa yang dikutip dari Crash.

"Saya dijadwalkan cek-up pada Rabu (19/10/2016). Baru setelah itu saya akan memikirkan waktu yang tepat untuk kembali menggunakan sepeda motor," tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Pedrosa juga mengucapkan selamat untuk Marc Marquez yang berhasil meraih gelar juara dunia MotoGP 2016. Hingga seri ke-15 Marquez sudah memiliki 273 poin. Ia unggul 77 angka dari Valentino Rossi dan sisa tiga balapan tidak akan mempengaruhi kedudukan kedua pembalap di papan klasemen.

"Saya ucapkan selamat untuk Marc dan tentunya Honda atas pencapaian gelar ini," ucap Pedrosa.

Seperti diketahui, Pedrosa mengalami kecelakaan saat latihan di Sirkuit Motegi Jepang, 14 Oktober 2016 lalu. Pada balapan di Australia, perannya sebagai joki Repsol Honda bakal digantikan oleh Nicky Hayden.

SRC

Dominasi Marquez Bisa Seperti Era Emas Rossi



Gelar juara dunia ketiga MotoGP yang didapatkan Marc Marquez bisa jadi sinyal kuat bahwa dominasi Marquez di era ini bisa seperti dominasi Rossi di dekade 2000-an.

Marquez merebut titel juara dunia ketiga hanya dalam empat musim pertamanya di kelas utama grand prix. Hal itu sama dengan catatan milik Rossi ketika ia naik kelas ke 500cc(MotoGP) pada tahun 2000.

"Meraih gelar dengan tiga seri tersisa merupakan sebuah bukti bahwa Marquez memang layak jadi juara dunia musim ini. Marquez telah tumbuh lebih matang dibandingkan usianya yang masih 23 tahun."

"Cara dia menghadapi situasi sampai akhirnya memastikan gelar juara dunia di tangannya sungguh sempurna," kata mantan pebalap, Randy Mamola dalam kolom-nya di Motorsport.

Mamola bahkan berani menjamin bahwa Marquez bisa mengikuti dominasi Rossi di awal 2000 bila terus tampil tenang musim depan.

"Bila Honda mampu menyajikan motor bagus dan Marquez membalap dengan bijak seperti di tahun 2016, maka kita akan kembali menyaksikan awal era baru seperti halnya Valentino Rossi pada 2000-2005," tutur Mamola.

Mamola menilai Marquez tak mendapatkan keuntungan dari awal musim. Pasalnya, di awal musim motor Honda performanya di bawah Ducati dan Yamaha.

"Marquez mampu bertahan hingga pertengahan musim dan setelah itu Honda mampu menyajikan motor sesuai keinginan Marquez."

"Marquez bersaing dengan Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo yang merupakan dua pebalap terbaik sepanjang masa. Meskipun Marquez berusia lebih muda, namun dia sukses membuat sedikit kesalahan dibandingkan duo Yamaha itu," kata Marquez.

SRC